Review Makna Lagu Tarot: Ramalan Cinta yang Tak Terduga
Review Makna Lagu Tarot: Ramalan Cinta yang Tak Terduga. Lagu “Tarot” karya .Feast terus menjadi salah satu karya paling kuat dan relevan di scene musik Indonesia hingga awal 2026. Dirilis pada 2024 sebagai bagian dari album Membangun & Menghancurkan, lagu ini menggabungkan energi rock alternatif dengan lirik yang gelap namun penuh refleksi. Dengan judul yang langsung mengingatkan pada kartu ramalan, lagu ini tidak benar-benar bicara tentang ramalan cinta romantis yang manis, melainkan tentang ramalan cinta yang tak terduga—hubungan yang penuh risiko, luka berulang, dan konsekuensi dari pilihan emosional. Di tengah tren lagu cinta yang sering berwarna pastel, “Tarot” hadir dengan nada lebih tajam, mengajak pendengar melihat sisi gelap dari jatuh cinta: bahwa nasib hubungan kadang sudah tertulis, tapi tetap saja kita memilih untuk jatuh lagi. REVIEW FILM
Latar Belakang dan Konteks Album: Review Makna Lagu Tarot: Ramalan Cinta yang Tak Terduga
.Feaset merilis “Tarot” di tengah periode yang cukup berat bagi band ini. Sebelumnya, mereka sempat mengumumkan hiatus atau jeda panjang, bahkan sempat memutuskan bubar, sebelum akhirnya kembali dengan energi baru. Album Membangun & Menghancurkan menjadi pernyataan bahwa kehidupan—termasuk karier dan hubungan—selalu melibatkan dua sisi: membangun sesuatu yang indah dan menghancurkannya dengan tangan sendiri.
Lagu ini diproduksi dengan aransemen rock yang kental, gitar distorsi yang menggigit, dan vokal Apoy yang penuh emosi mentah. Durasi sekitar empat menit terasa padat, tanpa bagian yang sia-sia. Popularitasnya terus bertahan karena sering dipakai sebagai backsound konten tentang toxic relationship, overthinking, atau bahkan refleksi pertemanan yang rumit. Hingga kini, lagu ini masih sering muncul di playlist galau rock Indonesia dan cover akustik di media sosial, membuktikan bahwa tema luka emosional yang jujur tidak pernah kehilangan pendengar.
Makna Lirik: Ramalan Cinta yang Tak Terduga: Review Makna Lagu Tarot: Ramalan Cinta yang Tak Terduga
Inti dari “Tarot” adalah gambaran hubungan sebagai sesuatu yang sudah “dibaca” nasibnya, tapi tetap saja dijalani meski tahu risikonya. Lirik pembuka “Nama yang sama bertahan, Dalam ruangan hening, Tanpa suara bertahan, Tak bergeming” langsung menciptakan suasana stagnasi—dua orang yang terjebak dalam pola yang sama, diam, tapi tidak bisa lepas. Ada rasa lelah yang terasa dalam “Terlalu lama bercanda, Kita tak lagi bercanda, Kita tak lagi tertawa”.
Bagian yang paling menusuk ada di chorus dan verse tengah: pertanyaan retoris tentang apakah berbagi derita itu benar-benar mungkin, atau justru akan membuat segalanya memburuk. “Apa benar ‘tuk berbagi derita? Mungkin nanti semua justru memburuk” menunjukkan keraguan mendalam terhadap konsep “kita sama-sama terluka, jadi kita saling mengobati”. Realitasnya, sering kali luka baru malah bertambah.
Lirik “Hati-hati, namun terjatuh lagi, Tapi luka adalah niscaya, Kutanggung sendiri” menjadi puncak pesan: ramalan cinta di sini bukan tentang menemukan soulmate sempurna, melainkan tentang menerima bahwa jatuh cinta sering berarti jatuh ke lubang yang sama berulang kali. Kartu tarot dalam lagu ini bukan alat ramal mistis, melainkan metafor untuk pola destruktif yang sudah terbaca jelas—tapi kita tetap memilih untuk mengulanginya. Ada nuansa fatalisme yang kuat, tapi juga keberanian: meski tahu akhirnya pahit, kita tetap menanggung luka itu sendiri.
Secara keseluruhan, lagu ini menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang tak terduga bukan karena keajaiban, melainkan karena sifatnya yang berulang dan menyakitkan. Ini bukan lagu tentang harapan bahagia selamanya, tapi tentang kesadaran bahwa cinta sering kali datang bersama konsekuensi yang sudah bisa diramalkan
.
Dampak dan Respon Pendengar Saat Ini
Hingga 2026, “Tarot” masih sering dibahas di komunitas musik alternatif dan media sosial. Banyak pendengar mengaitkannya dengan pengalaman pribadi: hubungan yang toxic tapi susah dilepas, pertemanan yang retak karena ego, atau bahkan perjuangan band itu sendiri untuk bangkit setelah hampir bubar. Di konser .Feast, bagian chorus sering dinyanyikan bersama dengan penuh emosi, seolah menjadi katarsis kolektif.
Respon positif mendominasi karena lagu ini terasa autentik—tidak mencoba terlalu manis atau menghibur. Beberapa pendengar bahkan menyebutnya sebagai “lagu untuk orang yang sudah capek berharap”. Cover dan reinterpretasi akustik terus bermunculan, menunjukkan bahwa meski genrenya rock, pesannya universal. Lagu ini juga mendorong diskusi tentang kesehatan mental dalam hubungan, bahwa tidak semua cinta harus dirayakan—ada yang memang lebih baik dikenali sebagai pola berbahaya.
Kesimpulan
“Tarot” bukan lagu cinta biasa yang menjanjikan akhir bahagia. Ia adalah ramalan yang jujur: cinta sering kali sudah punya pola yang bisa dibaca, penuh risiko luka berulang, dan kadang kita tetap memilih untuk jatuh lagi meski tahu konsekuensinya. .Feast berhasil menyampaikan pesan itu dengan energi mentah dan lirik yang tajam, membuat pendengar tidak hanya mendengar, tapi juga merasakan beratnya pilihan emosional tersebut. Di tengah maraknya lagu romansa yang ringan, “Tarot” mengingatkan bahwa cinta tak selalu indah—kadang ia datang sebagai kartu yang sudah terbuka, dan kita tetap memutuskan untuk memainkannya. Lagu ini tetap relevan karena bicara tentang kenyataan yang banyak orang alami: ramalan cinta yang tak terduga, tapi sebenarnya sudah bisa ditebak.